Waktu menempuh perjalanan ke Jatinangor mencari Nasi Pecel Madiun, mataku langsung tertarik tulisan seperti tertera sebagai judul di atas. Itu terjadi di persimpangan Soekarno-Hatta Cileunyi sesudah IAIN Sunan Gunung Djati kalau dari terminal Cicaheum.
Khas Sunda ? Hmm....
Setahuku sate itu Madura atau Padang.
Wah patut dicoba nih.
Tapi setelah mengunyah dan merasakan daging yang ditusuk dan sambal kacang yang melumurinya, tak kutemukan sesuatu yang berbeda dari sate-sate pada umumnya. Baik bumbu sambal dan dagingnya masih seperti sate-sate pada umumnya. Aku pesan 5 tusuk daging sapi dan 5 berikutnya daging ayam. Daging ayamnya menurutku terlalu lunak. Akibatnya muncul perasaan 'enek'.
Yah, tak apalah. Menambah referensi tempat makan. Kusimpulkan, nama di atas tak lebih dari penarik pelanggan baru saja. Dan aku memang tertarik.
Sebelum beranjak dari warung tersebut, kutinggalkan Rp.15.000,- ke penjualnya.
Khas Sunda ? Hmm....
Setahuku sate itu Madura atau Padang.
Wah patut dicoba nih.
Tapi setelah mengunyah dan merasakan daging yang ditusuk dan sambal kacang yang melumurinya, tak kutemukan sesuatu yang berbeda dari sate-sate pada umumnya. Baik bumbu sambal dan dagingnya masih seperti sate-sate pada umumnya. Aku pesan 5 tusuk daging sapi dan 5 berikutnya daging ayam. Daging ayamnya menurutku terlalu lunak. Akibatnya muncul perasaan 'enek'.
Yah, tak apalah. Menambah referensi tempat makan. Kusimpulkan, nama di atas tak lebih dari penarik pelanggan baru saja. Dan aku memang tertarik.
Sebelum beranjak dari warung tersebut, kutinggalkan Rp.15.000,- ke penjualnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar