Ini soal 2 orang perempuan yang kukenal dalam perjalanan hidupku. Perempuan kedua bercita-cita menjadi presiden RI tahun 2029. Sedangkan perempuan pertama, pokoknya menjadi wanita karir!. Yang menyatukan keduanya ialah Xena, princess warrior. Dan mereka berakar di Sumatera Utara.
Xena, kutahu pertama kali saat menjadi serial film di salah satu TV. Sepak terjangnya, sarat dengan pertarungan, dunia yang kebanyakan diasosiasikan dengan kaum adam.
Perempuan pertama dijuluki Xena oleh teman-temannya karena keberaniannya menghadapi siapapun. Kaum lelaki agaknya bergidik berhadapan dengannya. Teman-temannya, terutama yang lelaki, kesusahan -dan mungkin kelelahan- menemukan aspek kelembutan dalam dirinya, yang seharusnya, setidaknya menurut mereka, ada dalam sosok seorang perempuan. Teman-temannya memandang dia sosok keras.
Perempuan kedua justru menggemari serial/film Xena dan mengidolakannya. Baginya, Xena adalah sosok ideal, semacam role model. Yang semakin mendekatkannya ke dunia lelaki adalah latar belakang pendidikannya. Jurusan teknik. Lebih jelas lagi, robotika.
Dia membangga-banggakan prestasi menjual hak paten senilai 100 juta lebih. Nada kebanggaannya sekencang nada memakinya. Dia mengutuk habis-habisan pencurian karya programming-nya oleh programmer lain. Sistem nilainya hanya ada 2, yaitu plus atau minus. Selebihnya tinggal hitung saja berapa minusnya, berapa plusnya. Pas sekali dengan sistem biner dalam programming, 0 atau 1.
Nada tertawa keduanya berbeda. Yang pertama lebih nge-bass dan yang kedua melengking. Lengkingan tertawanya menurut kesaksian beberapa pihak mirip dengan Mak Lampir. Ditambah fakta kejadian tertawanya sering terjadi di tengah malam (dia sering menonton film/serial yang menurutnya lucu sekitar pukul 23.00 - 02.00), membuat orang bekerja keras untuk tidak mengidentikkannya dengan Mak Lampir.
Tertawa perempuan pertama justru membuatku menikmati suaranya. Itulah pengingat diriku terhadapnya. Kalau pengingatku terhadap perempuan kedua adalah saat ia memaki orang dengan sebutan monyong!....dan variannya munyung! Dasar monyong loe...! Munyungmu...!
Aku tertawa saat dia memaki seperti itu. Dia mempertunjukkan apa yang disebut monyong itu sesungguhnya saat kulihat mulut dan bibirnya maju ke depan. Ketidaknyamananku akan nada amarahnya tersapu bersih oleh demonstrasi yang ditunjukkannya. Aku senantiasa tergelak-gelak saat seperti itu.
Energi tertawaku berlipat ketika mengingat rekanku dari Tembilahan-Riau memiliki kebiasaan menunjuk-nunjuk sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan orang. Alih-alih menggunakan telunjuk tangan, ia terbiasa memakai bibir dan mulut dengan memaju-majukannya.
Perempuan kedua baru saja berlalu dalam lintasan hidupku. Sementara, perempuan pertama sudah lama berlalu. Kehadiran antara keduanya terpaut 13 tahun. Kukagumi kepercayaan diri mereka.
Jika suatu saat nanti, keduanya berada dalam satu ruang dan waktu yang sama, aku tidak sangsi lagi mereka segera menemukan persamaan-persamaannya : perempuan maskulin.
Tertawa perempuan pertama justru membuatku menikmati suaranya. Itulah pengingat diriku terhadapnya. Kalau pengingatku terhadap perempuan kedua adalah saat ia memaki orang dengan sebutan monyong!....dan variannya munyung! Dasar monyong loe...! Munyungmu...!
Aku tertawa saat dia memaki seperti itu. Dia mempertunjukkan apa yang disebut monyong itu sesungguhnya saat kulihat mulut dan bibirnya maju ke depan. Ketidaknyamananku akan nada amarahnya tersapu bersih oleh demonstrasi yang ditunjukkannya. Aku senantiasa tergelak-gelak saat seperti itu.
Energi tertawaku berlipat ketika mengingat rekanku dari Tembilahan-Riau memiliki kebiasaan menunjuk-nunjuk sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan orang. Alih-alih menggunakan telunjuk tangan, ia terbiasa memakai bibir dan mulut dengan memaju-majukannya.
Perempuan kedua baru saja berlalu dalam lintasan hidupku. Sementara, perempuan pertama sudah lama berlalu. Kehadiran antara keduanya terpaut 13 tahun. Kukagumi kepercayaan diri mereka.
Jika suatu saat nanti, keduanya berada dalam satu ruang dan waktu yang sama, aku tidak sangsi lagi mereka segera menemukan persamaan-persamaannya : perempuan maskulin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar