Buku cerita ini mengambil teknik narasi seperti novel Kisah Pi, yang merupakan terjemahan dari Life of Pi. Sedangkan pergulatan sang tokoh, Hypa, membawaku pada film Samsara (2001), besutan Pan Nalin. Ada sesuatu yang segera kutangkap sama antara Hypa dan Tashi, sang tokoh di Samsara.
Pengarang diceritakan mengambil kisah dari orang lain. Di Kisah Pi, si pengarang mengambil kisah dari orang yang berhasil bertahan hidup di samudera pasifik, sedangkan di Azazil, sumber cerita adalah otobiografi seorang rahib dari tahun 430-an M yang ditemukan dalam reruntuhan.
Adapun tokohnya sendiri, Hypa merupakan manusia yang menempuh pilihan hidup selibat. Hidup tidak menikah. Karena memang itulah ketentuan seorang rahib. Hal sama terjadi pada diri Tashi. Tapi dalam kerangka seorang biksu.
Kedua tokoh ini, di masing-masing media ceritanya, pada akhirnya harus berhadapan dengan sosok perempuan. Masa bertemu dengan lawan jenis tersebut, sangatlah mengguncangkan keduanya. Di situlah mereka berhadapan dengan apa sesungguhnya konsekuensi hidup selibat itu. Pergulatan untuk melawan naluri sendiri.
Memang kedua tokoh itu 'jatuh'.
Memang menarik pergulatan memilih hidup selibat. Banyak orang yang tidak mengerti pilihan hidup semacam ini. Bukankah laki-laki dan perempuan diciptakan untuk bersatu dan saling melengkapi satu sama lain ?
Apa dasar hidup selibat ? Apa yang diraih dari hidup selibat ?
Yang menarik di kedua cerita dengan tokoh Hypa dan Tashi adalah penggambaran konsekuesi pilihan hidup selibat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar