Selasa, 15 Oktober 2013

Jagal

Pemberitaan atas film besutan Joshua Oppenheimer banyak mengulas tentang pemerian kekejian seorang manusia dan menambah bukti kebenaran kejadian pembunuhan massal di tahun 1965 yang menandai kemunculan Orde Baru serta berkelindannya penguasa dengan preman.

Di situs http://actofkilling.com/, mereka yang masih penasaran menyimak lagi atau baru mau menonton, dipersilahkan untuk mengunduhnya. Tanpa bayar!

Tapi aku punya pendapat sendiri tentang film dokumenter yang satu ini.

Pada saat pertama kali menonton, aku melihat proses pemulihan diri secara psikis atas diri Anwar Congo. Aku langsung teringat metoda psikoanalisis. Pasien diajak untuk mengingat kembali peristiwa yang membuatnya trauma. Harapannya dengan merunut ulang akan terungkap rincian-rincian peristiwa yang terjadi dan akan ada penempatan ulang arti kejadian trumatis itu pada diri sang pasien di masa kekinian.


Peristiwa trumatik biasanya membuat pikiran pasien berusaha menyembunyikannya serapat-rapatnya. Di sisi lain ada juga usaha untuk mengungkapkan peristiwa tersebut, karena ada sesuatu yang tidak beres. Tidak wajar. Maka terjadilah pertarungan dalam diri si pasien.

Penempatan ulang arti kejadian traumatis pada Anwar Congo terlihat saat ia melihat sendiri hasil akting yang dihasilkan. 

Tak hanya memerankan kembali perbuatannya waktu itu, Anwar berusaha pula memposisikan diri sebagai korban kejahatannya. Mau merasakan bagaimana menjadi korban kekejian. Kupikir dia sedang 'meminta maaf' kepada korban hasil kerja tangannya.

Kelegaan dalam diri Anwar tergambarkan saat ia merentangkan tangan dan menikmati suasana dengan latar belakang air terjun yang menderas.

Aku menonton film ini selama 2 hari secara menerus. Berawal di malam hari dan berakhir di dini hari pada hari berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar