Tak kurang dari sebulan ke belakang aku menonton film Agora dan membaca buku Darmagandhul (terjemahan Darma Shashangka). Ada adegan dan narasi yang menarik perhatianku : pembakaran kitab/lontar seiring pergantian agama skala besar-besaran dan yang menggunakan kekerasan massa.
Di Agora adalah saat Kristen menyebar di Mesir. Di Darmagandhul adalah saat Demak menyebarkan Islam di Majapahit. Di dua media ini juga tergambar, bagaimana terjadi penghancuran-perusakan terhadap patung-patung.
Kraton Majapahit dan perpustakaan Alexandria tak mampu melindungi kitab/lontar/berbagai produk tulisan itu. Mereka diserbu, diacak-acak dan dibakar karena dianggap memuat ajaran-ajaran yang berbahaya. Harus musnah dari pengajaran penduduk. Dan pada akhirnya, harus hilang dari ingatan kolektif mereka.
Hal yang sama dialami oleh teks-teks Tibet selama revolusi kebudayaan Cina, yang dituduh berbau-bau feodal. Lihat After Winding Odyssey, Tibetan Texts Find Home in China. Pengarang Pramoedya juga menderita nasib yang sama : beberapa bukunya dibakar Angkatan Darat selama peristiwa 1965. Diduga memuat ajaran-ajaran kiri.
Patut dicermati perubahan yang melibatkan massa dan penganjuran penggunaan kekerasan. Buku/kitab/produk tulisan tak pelak lagi akan menjadi sasaran.
Haruskah pergantian kekuasaan memusnahkan pengetahuan rezim sebelumnya ? Bagaimanakah nasib pengetahuan manusia ? Apakah pengetahuan hanya berasal dari lingkaran kita sendiri saja ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar