Minggu, 28 April 2013

Tergenggam atau Digenggam Masa Lalu

Dialah yang merancang perlawanan saat pendudukan kampus oleh tentara. Dia itu yang berani berhadapan dengan panser. Dia adalah orator ulung ketika reformasi 1998 pecah. Saat intel berkeliaran di acara diskusi-diskusi, dia tak peduli dan tidak takut.

Aku tidak tertarik membahas si dia-nya. Akan tetapi menarik untuk membicarakan waktu terjadinya semua peristiwa di atas. Itu ada di masa lalu. Di masa lalu !

Mereka yang bercerita kepadaku tentang peristiwa itu tampak terlarut dalam atmosfer masa lalu. Sangat bersemangat mereka menceritakan, mirip mendongeng. Apalagi, jika mereka hadir di saat peristiwa itu terjadi. Antusias berceritanya semakin meluap.

Mereka menyebut dirinya aktivis.

Kadang kubertanya, apa arti semua itu di saat ini dan masa depan.

Ada satu episode dalam hidup mereka yang dipenuhi gairah untuk melakukan sesuatu. Sesuatu, bukan untuk diri mereka sendiri. Sesuatu untuk orang lain dan orang banyak. Bukan untuk keluarga atau sanak sendiri.

Akan tetapi situasi kini ternyata tidak sesuai dengan ideal mereka. Sementara, mereka terbatas melakukan sesuatu sekarang. Banyak hal dirasakan sebagai penghalang. Mereka kecewa. Mereka mengobatinya dengan berkunjung kembali ke masa lalu. Berdiam sejenak di sana. Sekedar memulihkan diri sesaat, agar tidak goncang menghadapi situasi kekinian. 

Simpatiku untuk mereka.

Kuharap mereka tidak tergenggam, apalagi digenggam masa lalu. Kuharap mereka justru berupaya menggenggam masa kini dan masa depan. Membuat masa kini dan masa depan. Terus membuat dan berbuat.

Sesekali berkunjung ke masa lalu tidak apa-apa. Namun, bertolaklah dari masa lalu ke masa kini dan masa depan. Melentinglah dari masa lalu menggapai cita di masa depan, melalui masa kini.

Salam hangat untuk jiwamu, Kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar