Rabu, 15 Mei 2013

Kepemimpinan Dwitunggal dalam Keluarga

Gagasan ini terinspirasi duet Soekarno-Hatta dalam menahkodai Revolusi Indonesia 1945-1949. Aku tidak bermaksud menyamakan Soekarno dengan jenis kelelakian dan Hatta dengan keperempuan. Yang kuambil adalah komitmen keduanya mempertahankan wadah keindonesiaan dalam bentuk negara merdeka.

Untuk mendaratkan komitmen tersebut kedua orang ini saling menenggang satu sama lain dalam hal pengambilan keputusan yang berpengaruh terhadap kepentingan negara Indonesia. Contoh nyata adalah pengeluaran Maklumat Wakil Presiden No. x, tanggal 25 Oktober 1945, setelah mendengar pendapat KNIP yang menginginkan kekuasaan legislatif melalui pembentukan Badan Pekerja KNIP. Keputusan seorang Wakil Presiden yang berkekuatan hukum tampak tidak lazim. Tapi toh, demi kepentingan khalayak, maklumat tersebut sah, diakui serta dilaksanakan.

Selama ini lembaga keluarga menempatkan lelaki sebagai kepala keluarga. Pembagian tradisional peran adalah ayah mencari penghasilan material dan bergerak di ranah khalayak-eksternal keluarga. Ibu mengurus keluarga-anak serta menguasai ranah domestik-internal.

Pembagian ini menghambat perempuan dalam menyampaikan aspirasi dalam bidang yang menjadi kesehariannya. Lelaki-ayah berkepentingan soal air terbatas pada dirinya sendiri, minum, mandi dan buang hajat dan untuk beberapa kalangan mencuci kendaraan bermotor. Sedangkan perempuan-ibu kebutuhan airnya lebih banyak, selain mengurus diri sendiri harus menangani kebutuhan anak dan keluarga secara keseluruhan, seperti mencuci pakaian, air untuk memasak hidangan sehari-hari, air merawat bayi, anak kecil. Pendek kata, kepekaan ibu terhadap air lebih tinggi dibandingkan ayah.

Jika air sudah menjadi urusan orang banyak, perantaraan lelaki dalam berbicara soal kebutuhan air dalam pertemuan supra keluarga (komunitas) kemungkinan besar bakal menggerus kepentingan ibu-perempuan menyangkut hal air. Karena para lelaki ini akan bertemu dengan sejenis mereka sendiri berhubung status sebagai kepala keluarga.

Lain halnya jika kepemimpinan ibu-perempuan setara dengan ayah-lelaki dalam keluarga. Persoalan-permasalahan komunitas akan lengkap terbahas dari kedua sudut pandang yang berbeda. Pertemuan-pertemuan umum akan menghadirkan kombinasi wawasan kelelakian dan keperempuan.

Kepemimpinan dwitunggal tidak bermaksud membalik peran kepala keluarga dari ayah-lelaki ke ibu-perempuan. Akan tetapi, mensejajarkan keduanya sebagai kepala keluarga dengan kewenangan sama dalam mengambil keputusan supra keluarga yang akan dihormati dalam lingkungan keluarga. Kedua belah pihak bisa saling menggantikan jika salah satu berhalangan atau bila pertemuan umum komunitas membahas soal yang sarat kelelakian (misal, kenakalan remaja) atau sarat keperempuan (misal kesehatan reproduksi).  

Kepemimpinan dwitunggal juga bermanfaat mengantisipasi keguncangan dalam keluarga, apabila ayah-lelaki harus terpisah, entah meninggal dunia atau bercerai. Ibu-perempuan kemungkinan membutuhkan penyesuaian sedikit dalam kehidupan komunitas karena telah terbiasa tidak hanya berkutat di ranah domestik-internal.


Keterangan : Ini kuambil dari catatan pribadiku, November 2008


Tidak ada komentar:

Posting Komentar