Minggu, 19 Mei 2013

Percakapan di Perjalanan

"Aku dibayar lebih rendah dari seharusnya itu juga wujud volunteerism". Kata seorang teman. Dan itu menambah pengetahuanku tentang beragamnya pengertian kesukarelaan.

Pengertian tersebut menantang pemahamanku selama ini tentang kesukarelaan yang tidak ada unsur uang di dalamnya. Akan tetapi, temanku ini mengkonstruksi pengertian lain tentang selisih penghargaan (yang berwujud uang) antara yang semestinya dengan senyatanya sebagai sebuah kesukarelaan. Kesediaan menerima kehadiran selisih.

Terus terang, aku harus mencerna hebat buah pikirannya, saat itu. Dan itu masih terjadi sampai sekarang. Salut untuk pandangannya tersebut.

Konteks percakapan kami bermula dan seputar berkegiatan organisasi. Aku meyakini unsur kesukarelaan penting mewarnai kegiatan organisasi. Kesukarelaan dalam pengertianku. 

Tapi dengan pengertiannya tersebut, kutangkap ia semacam mengidealkan setiap kegiatan harus berbiaya. Atau lebih tepatnya, ada pembiayaan yang selalu menyertainya, yang salah satu item-nya tentu soal tenaga manusia yang mengerjakan kegiatan.

Aku tidak sepenuhnya keberatan terhadap pandangannya. Tantangannya adalah apakah harus menunggu pembiayaan ada terlebih dahului untuk melakukan sebuah kegiatan organisasi, yang kadang kala membutuhkan reaksi cepat ?

Kami tidak sedang menemukan kata sepakat pada waktu itu. Cukuplah memahami masing-masing pihak mempunyai pengertian yang berbeda.

Kendaraan yang kami tumpangi terus melaju di jalan tol penghubung Bandung-Jakarta. Kulihat gundukan-gundukan bukit yang hijau di sepanjang perjalanan.

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar