Kira-kira ya beginilah, jika jalinan antar sila di Pancasila kutempatkan. Gambar ini kubuat karena picuan pertanyaan kawan yang seorang aktivis lingkungan, tentang apa arti Pancasila di Indonesia dewasa ini.
Lingkaran hitam adalah Persatuan Indonesia. Itu adalah pernyataan membentuk komunitas politik bernama Indonesia. Tak peduli etnisnya apa, ras mongolid atau melanesia, persetan dengan agama dan keyakinannya dan atribut-atribut lain.
Untuk apa membentuk komunitas politik bernama Indonesia ? Yah, menciptakan keadilan sosial bagi penghuni komunitas ini. Caranya bagaimana ? Dengan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Aku menangkap sila 4 adalah rumusan inti demokrasi.
Tapi komunitas yang diciptakan itu disadari hadir di tengah-tengah komunitas manusia yang lain. Ada sesuatu yang melebihi dari sesuatu yang disebut sebagai komunitas politik (negara). Negara bukanlah segala-galanya. Negara adalah alat mencapai sesuatu dan alat untuk bergaul dengan manusia lain yang berhimpun dalam komunitas politik lain.
Negara juga berpotensi menjajah manusia di dalam komunitasnya sendiri. Perlu ada sesuatu yang melampaui negara untuk menangkal ancaman tersebut. Di Pancasila terumuskan dalam kalimat Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Apa bedanya dengan gagasan HAM (Hak Asasi Manusia) ? Bagiku tak ada perbedaannya.
Pada zaman itu instrumen HAM belum berkembang pesat. Lain dengan saat ini. Sudah membludak. Pengalaman-pengalaman perang dan saling membunuh antar manusia serta pertikaian-permusuhan, membawa keprihatinan dan pemikiran-pemikiran tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Beberapa pihak membawanya lebih jauh menjadi instrumen-instrumen hukum untuk mencegah pengalaman-pengalaman itu terulang kembali.
Bahkan solidaritas sebagai sesama manusiapun dipandang tidak cukup. Ada sesuatu yang di luar ras manusia yang hadir. Yang selalu menyertai ruang-waktu keseharian manusia. Hal itu terungkapkan dalam 'Ketuhanan yang Maha Esa'. Pengakuan terhadap sesuatu yang ilahiah.
Masih memadaikah ungkapan ini ? Untuk saat sekarang ? Kita bisa berdiskusi lebih jauh.
Masih memadaikah ungkapan ini ? Untuk saat sekarang ? Kita bisa berdiskusi lebih jauh.
Memilih berindonesia adalah selalu bergerak ke dalam dan ke luar. Sepanjang waktu. Tanpa lelah. Terus menjadi dan menjadi.
Menguras energi ? Tak kusangsikan.
Menguras energi ? Tak kusangsikan.
Berindonesia bukanlah memilih membeku. NKRI harga mati! adalah salah satu contoh bentuk kebekuan. Dengan memilih kebekuan, yang ada adalah Indonesia yang mati.
Satu lagi kebekuan, yang menurutku penting dicairkan : "Pancasila, satu, ketuhanan yang mana esa. Dua ...... Tiga ........ Empat ..... Lima.....".
Entah mengapa ketika mendengarnya, yang terbayang olehku adalah ada seseorang yang memencet tombol pancasila dan keluarlah suara-suara hafalan dari mulut manusia-manusia yang dipencet itu. Pikiran mereka memanggil kalimat-kalimat sila yang tersimpan di ingatan. Ibarat mesin mereka itu bersuara. Dan mesin adalah benda mati.
Satu lagi kebekuan, yang menurutku penting dicairkan : "Pancasila, satu, ketuhanan yang mana esa. Dua ...... Tiga ........ Empat ..... Lima.....".
Entah mengapa ketika mendengarnya, yang terbayang olehku adalah ada seseorang yang memencet tombol pancasila dan keluarlah suara-suara hafalan dari mulut manusia-manusia yang dipencet itu. Pikiran mereka memanggil kalimat-kalimat sila yang tersimpan di ingatan. Ibarat mesin mereka itu bersuara. Dan mesin adalah benda mati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar