Terus terang keinginan membacaku tergerak oleh kata 'Pi'-nya. Sederhana saja, namaku diawali dengan 'pi' juga. Pi-us. Dulu ada temanku yang memanggil dengan sebutan Mr. Pi. Kalau ia mengucapkan, terlihatlah deretan giginya yang rapi. Piiiiii....Bunyi huruf i memang cenderung melengking.
Yang menarikku lagi adalah Samudera Pasifik. Itu kudapat setelah membaca sinopsis cerita di sampul belakang. Langsung saja, kemahaluasan yang terbayang di benak. Segalanya air, air dan air yang membentang. Dan hanya air.
Buku ini bercerita tentang bertahan hidupnya seorang anak muda India di tengah lautan teduh, setelah kapal yang ditumpangi bersama keluarganya dan binatang-binatangnya tenggelam begitu saja, selepas berangkat dari Manila dengan arah menuju Kanada. Tidak sekedar bertahan hidup saja. Tapi ditemani dengan seekor....harimau! Di satu sekoci yang sama !
Aku menikmati cerita tulisan Yann Martel ini. Aku merasakan selera humornya. Kegemaran dan kerinduanku adalah tertawa. Kudapatkan itu di buku ini.
Kutertawa saat Pi kecil diperebutkan oleh Islam, Kristen dan Hindu. Dan saat harimau bertanya kepada Pi , " Mana punyaku ? Mana bagianku ?" di tengah lautan.
Omong-omong soal terdampar, aku juga pernah membaca cerita bersambung di Majalah Hidup. Dulu sekali. Cerita tentang jatuhnya pesawat di pegunungan berselimut salju dan kisah bertahan hidup penumpangnya yang selamat. Salah satunya dengan memakan daging.....daging manusia. Di Kisah Pi juga ada penggalan cerita memakan daging manusia. Walau itu bukanlah kisah yang 'sebenarnya'.
Jarang-jarang kutemui pengarang menuliskan asal-usul ceritanya. Apalagi menempatkannya di dalam buku yang sama dengan cerita tersebut. Yann Martel melakukannya di sini. Dan bagiku tidak mengganggu.
Iseng-iseng ku-googling, ternyata cerita ini sudah diangkat menjadi film dan akan tayang resmi beberapa hari mendatang. Cuplikannya di bawah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar