Minggu, 25 November 2012

Pecel Kediri

Aku memang membulatkan diri merasakan semua makanan yang melabeli dirinya dengan kata 'pecel'. Setelah di dekat lintas rel KA di Jalan Laswi, Kota Bandung, kata pecel menampakkan diri di sebuah banner di Jalan Buah Batu, setelah Bank CIMB Niaga, kalau kita bergerak dari Hotel Horison di Jalan Pelajar Pejuang. Sebuah kota di Jawa Timur menempeli kata pecel. Pecel Kediri. Hmmm....seperti apakah rasamu ?

Yang ingin kukecap adalah sambal kacangnya lebih dulu. Dan yang ingin kulihat adalah eksistensi ragi/srondeng dan peyek. Indera penglihatanku mengkonfirmasi keberadaan peyek saja. Nasi pecel yang satu ini tak menghadirkan ragi/srondeng. Ok....inilah pecel Kediri. Masih bertumpu pada indera yang satu ini, aku mengenali kehadiran kol di sajian. Ok....inilah pecel Kediri.

Ketika indera pengecapku bekerja, ia langsung membawaku ke rasa sambal kacang gado-gado. Oh. Apa bedanya dengan sambal kacang gado-gado ya ? Kusendok lagi sajian yang terhidang di depanku itu. Sekali lagi, tak ada bedanya. Jadi, ini sebenarnya pecel dengan sambal kacang gado-gado. 

Itulah salah satu versi pecel Kediri. 

Aku tak mau terburu menyimpulkan begitulah pecel Kediri. Setelah beberapa kali menyantap pecel Kediri di beberapa tempat dan buatan dari beberapa koki yang berbeda, baru aku berani memerikan begini lho, pecel Kediri itu.

Sementara ini, biarlah waktu yang bekerja, yang akan menghantarkanku ke beberapa versi pecel Kediri menurut apa yang kupikirkan ada. Hmh..mestinya ada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar