Sabtu, 01 Desember 2012

Film Life of Pi

Dua kepuasanku untuk film Life of Pi. Raungan Richard Parker yang menggelegar dan ledakan halilintar menghantam ombak Samudera Pasifik yang tengah menggila diamuk badai. Aku juga terkesan dengan terkaman mematikan Richard Parker terhadap hyena di sekoci. Betul-betul tak terduga!

Putusanku akhirnya bulat menonton film ini. Aku sudah tahu cuplikannya di youtube. Tapi baru Jum'at pagi kemarin, aku melihat iklan tayang bioskopnya di harian Pikiran Rakyat. Tayang perdana.

Yang mengecewakan adalah proses sadarnya Pi atas sifat pulau yang di malam hari mencerna apa saja di atasnya untuk hidup. Terlalu cepat. Bahwa ada manusia yang pernah dicerna pulau ini dan tinggal giginya saja yang tersisa. Di buku, Pi harus melalui proses yang agak lama untuk sampai pada saat mengetahui aktivitas mencerna tersebut.

Ia harus menjelajah pulau, masuk ke dalam belantara dan memanjat satu pohon. Kemudian dia tertarik pada sesuatu yang tampak seperti buah bergantung di pohon. Dia memetiknya, mulai mengupasnya sedikit-demi sedikit hingga akhirnya tampaklah gigi manusia di dalam 'buah' itu. Pi tidak segera mengerti apa artinya itu.

Dia kemudian mengamati markhet, binatang mirip musang yang jutaan jumlahnya di pulau itu, selalu berlari terbirit-birit memanjat pohon ketika menjelang malam. Dia juga memperhatikan begitu ketakutannya, si markhet ketika jatuh dari pohon di malam hari. Dia melihat pula Richard Parker selalu naik ke sekoci begitu malam menjelang.

Setelah merenung-renung, dan berpikir-pikir, ia menyimpulkan 'tanah' di pulau itu yang tak lebih dari ganggang-ganggang yang saling menyatu dalam jumlah yang sangat masif, mengeluarkan zat asam pekat saat matahari terbenam. Zat asam inilah yang akan mencerna apa saja yang ada di atas 'tanah' pulau itu.

Kalau Ang Lee mau menggarap hal ini, aku yakin film ini akan menampilkan satu dramatisasi lain yang menyumbang nilai lebih tersendiri.

Waktu menonton film ini, lembaga sensor menampakkan dirinya dengan tulisan kurang lebih : film ini sudah lolos sensor dengan nomor sekian-sekian. Yang langsung terpikir olehku adalah apa saja yang telah digunting oleh lembaga yang satu ini.

Ada adegan yang kunantikan di film ini : saat Pi kecil diperebutkan oleh 3 agama. Eh, bukan. Tepatnya 3 pemuka agama, Islam, Kristen dan Hindu. Itu tidak ada di film. Tapi ada di buku. Kunantikan itu karena saat membaca bukunya, aku tertawa. Aku ingin mengulanginya lagi di saat menonton filmnya.

Aku lalu tergelitik, bagaimana mengetahui adegan itu memang tidak dibuat atau digunting oleh Lembaga Sensor Indonesia ? Langsung saja menyambar, cari saja bajakannya yang orijinal. Bajakan kok orijinal sih ? Maksudnya bajakan yang tidak ngambil dengan men-shoot di dalam bioskop. Hehehe.....

Aku agak tersinggung, ketika Life of Pi dikategorikan sebagai film remaja. Remaja ? Ini film permenungan. Ini film tentang betapa kecilnya manusia di tengah alam semesta. Kategorinya mestinya filsafat. Masalahnya lembaga sensor atau para pihak perbioskopan mengenal kategori ini gak ya ? Atau sebelumnya, apakah sempat terlintas membuat kategori ini ?

Atau jangan-jangan aku yang agak blo'on ? Kategori filsafat bukannya tidak ramah dengan sifat perbioskopan yang sarat hiburan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar